Thursday, November 29, 2007

November 2007

Tanggal: 10 Nopember
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir At-Takatsur (lanjutan)

Surat At-Takatsur diturunkan pada masa setiap suku kaum pagan Arab pada saat itu saling berlomba-lomba memperkuat klan masing-masing. Satu kelompok menyerang dan berusaha menaklukkan kelompok lainnya untuk menunjukkan kekuatan dan menambah kekayan mereka dengan cara mereka-reka alasan apapun yang dapat dibuat. Dalam kondisi sosial seperti ini, seorang anak perempuan dianggap dianggap tidak akan mampu melestarikan kekuatan kelompoknya, atau bahkan dianggap sebagai beban. Itulah sebabnya, anak perempuan dibunuh ketika masih bayi agar tidak menjadi beban kelak, sedangkan kehadiran seorang bayi laki-laki menjadi sebuah kebanggan.

Dengan surat At-Takatsur ini, Allah mengajarkan kita bahwa:

Kita dilarang untuk terlalu memusatkan diri dalam kehidupan duniawi (menumpuk kekayaan, kekuasaan dan sebagainya) yang akan menyebabkan kita menjadi sombong;

Namun sebaliknya, kelemahan-kelemahan yang kita miliki juga harus diperkuat meskipun tidak perlu berlebihan. Membangun kekuatan memang penting, namun tidak boleh sampai menimbulkan kesombongan yang berlebihan.

Kesimpulannya: harus ada keseimbangan dan harmoni antara kekuatan spiritual dan kekuatan fisik.

Kata maqaabir pada surat At-Takatsur berasal dari kata maqbara yang selanjutnya berasal dari kata qabara. Kata ma di atas menunjukkan tempat seperti halnya kata masjid sebagai tempat bersujud (sajada). Kata qaa (bacaan panjang dengan alif) menunjukkan kata benda jamak. Kata zara berarti mengunjungi yang kemudian berkembang menjadi ziarah. Itulah sebabnya ayat حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ lebih tepat diterjemahkan menjadi sampai kamu mengunjungi kuburan. Kurang tepat bila diterjemahkan: sampai kamu masuk kubur.

Ayat ke tiga surat At-Takatsur berbunyi:

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

Kata sa berarti segera sehingga سَوْفَ berarti akan dalam waktu dekat (near future).

Kata تَعْلَمُونَ berasal dari ‘ilma, ya’lam dan ‘ilman sehingga terjemahan ayat 3 At-Takatsur adalah seperti di atas.

Orang yang mampu melihat masa depan yang jauh adalah orang-orang yang mengerti (ulul albab), yang memiliki dua kamampuan yaitu: yadzkarun (mengingat Allah) dan yatafakkarun (merenung dalam mengingat Allah). Ini diperlukan dalam membangun vision untuk melihat tujuan hidup yang sebenarnya dan kekal di akhirat kelak. Ini digambarkan oleh sebagai perniagaan (yang selalu untung) dengan Allah dalam firman Allah surat Faatir: 29.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS 35, Faatir: 29)

Tanggal: 17 Nopember
Ustadz: Muhammad Mourits
Topik: Rukun dan syarat

Perhatikanlah tiga buah firman Allah yang memiliki persamaan satu sama lain, yaitu:

At-Taubah: 33;

Al-Fath: 28;

As-Shaff: 9

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS 9, At-Taubah: 33)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS 48, Al-Fath: 28)


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (QS 61, As-Saff: 9)

Ketiga ayat di atas jelas menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang haq dan kita harus bangga sebagai Muslim. Kemudian kita akan lihat juga bahwa selain agam Islam maka akan tertolak di hadapan Allah seperti firman Allah dalam Ali-Imran: 85.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS 3, Ili-Imran: 85)

Dengan maraknya orang-orang yang mengaku telah menerima wahyu (sebagai nabi) setelah Rasulullah, Allah menjelaskan bahwa mereka adalah pembohong dan bagi mereka adalah siksaan yang pedih, seperti firman Allah dalam Al-An’am: 93.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً أَوْ قَالَ أُوْحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَا أَنَزلَ اللّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (QS 6, Al-An’am: 93)

Tanggal: 18 Nopember
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Tiga pokok (al ushulu tsalatsa)

Tiga pokok dalah tauhid (ajaran keimanan) adalah:

  1. Ma’rifatullah atau mengenal Allah;
  2. Ma’rifatul aslam atau mangenal Islam;
  3. Ma’rifatur rasul atau mengenal Rasul.

Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah merepresentasikan dirinya sebagai Tuhan (Rab) seperti dalam Al-Fatiha: 2.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji2 bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS 1, Al-Fatiha: 2)

Kata رَبِّ (Tuhan) di atas sama seperti ayat Al-Qur’an yang berarti: hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu (ya ayyuhan nasu’ budu robbakumuladzi kholaqokum).

Selanjutnya kita bisa perhatikan pula ayat-ayat berikut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS 47, Muhammad: 19)

قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُل لِلّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang 462. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman463. (QS 6, Al-An’am: 12)

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (QS 13, Ar-Rad: 16)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS 20, Taha: 14)

Kalimat sembahlah aku (فَاعْبُدْنِي) pada surat Taha: 14 inilah yang lebih menjelaskan bagaimana cara menyembah Allah dengan penjelasan berikutnya dalam ayat tersebut yaitu: َأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي yang berarti mendirikan sholat dan berdzikir (mengingat Allah). Selanjutnya, dzikir terdiri atas tiga macam yaitu:

  1. Sholat seperti pada Taha: 14 di atas);
  2. Membaca kalimat-kalimat yang mengingatkan dan membesarkan nama Allah;
  3. Membaca Al-Qur’an

Dengan mengenal Allah dan bertaqwa, kita akan memperoleh kemerdekaan yang sejati seperti yang dijelaskan dalam Al-An’am: 82 dan Ar-Rad: 28.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 6, Al-An’am: 82)

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS 13, Ar-Rad: 28)


Tanggal: 24 Nopember
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik:
Tafsir At-Takatsur (lanjutan)

Pesan-pesan surat At-Takatsur sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari manusia, yaitu kehidupan dunia hendaknya jangan dijadikan titik fokus dari tujuan hidup. Kita harus selalu menitik beratkan persiapan untuk kehidupan kekal di akhirat karena kehidupan dunia akan sangat tidak berarti (hanya sebentar).

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Kata lau (لَوْ) adalah sama dengan in yang berarti: bila atau kalau). Sementara itu, pengulangan kata kerja تَعْلَمُونَ yang diikuti dengan kata benda عِلْمَ yang memiliki akar kata sama bermakna sebagai tekanan atau penguatan di dalam bahasa Arab.

Secara literal, ayat ke 5 At-Takatsur di atas adalah sebetulnya sebuah pertanyaan yang jawabannya justru telah diberikan dalam ayat pertama di atas.

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

Huruf nun (نَّ) di atas dinamakan nun taukid yang bermakna penekanan dari kata sebelumnya tara (تَر) yang berarti melihat. Sedang huruf lam bermakna sungguh yang juga bermakna penekanan. Ini adalah jaminan Allah bahwa neraka jahim (جَحِيمَ) itu ada dan akan diperlihatkan pada manusia.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
1600dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Janji Allah memang menyangkut hal yang ghaib sehingga hanya karena ketaqwaan sajalah yang dapat meyakini keberadaan janji Allah tersebut. Sementara itu, taqwa hanya akan dapat diperoleh dengan pengetahuan seperti surat Fathir: 28 dan Ar-Rum: 59 berikut

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
1259Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS 35, Faathir: 28)

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. (QS 30, Ar-Rum: 59)



October 2007

Tanggal: 7 Oktober
Ustadz: KH. Muchdi Cholil
Topik: Bacaan Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab suci memuat dan mengatur semua aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dibandingkan (unparalleled) dengan kitab apapun.

Bila kita mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, maka kita harus diam (tidak berisik) dan mendengarkan, maka insya Allah, kita akan memperoleh rakhmat Allah SWT, seperti yang tercantum dalam surat Al-A’raf: 204 sebagai berikut:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS 7, Al-A’raf: 204)

Dengan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bagi mereka yang membacanya, rakhmat Allah yang lebih besar akan dilimpahkan, seperti yang tercantum dalam surat Al-An’am: 160.

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS 6, Al-An’am: 160)



Tanggal: 20 Oktober
Ustadz: KH. Sulaiman Zachawerus
Topik: Allah yang akan mempersatukan umat Islam

Membesarkan nama Allah pada akhir bulan Ramadhan adalah sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al-Baqarah: 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(QS 2, Al-Baqarah: 185)


Ini memiliki implikasi bahwa kita harus selalu merendahkan diri di hadapan Allah. Dengan saling merendahkan diri, maka semua perbedaan yang terjadi terutama terkait dengan perbedaan hari Iedul Fitri 1427-H akibat ego manusia dapat dihilangkan. Hanya Allah-lah zat yang Maha Agung akan mampu mempersatukan hati kaum Muslimin seperti yang tercantum dalam Al-Anfal: 63.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS 8, Al-Anfal: 63)


Sementara itu, terhadap kemusyrikan, Islam tidak memberikan toleransi. Pernah suatu saat Rasulullah SAW diminta untuk hanya ‘meraba’ kaki Latta berhala kaum pagan Arab. Mereka membujuk bahwa Rasul tidak usah menyembah Latta, hanya cukup meraba kakinya saja hanya untuk menunjukkan toleransi pada kepercayaan kaum musyrik. Namun ketika Rasulullah hampir saja melakukan permintaan tersebut, turunlah surat Al-Isra: 73.

وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17, Al-Isra: 73)

Ayat ini dilanjutkan lagi dengan ayat 74 dan 75 yang dikutip:

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (QS 17, Al-Isra: 74)


إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً
kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.
(QS 17, Al-Isra: 75)


Ternyata, pada kemusyrikan, memang tidak ada toleransi dalam Islam.

Sementara itu, hikmah saling memaafkan dalam Iedul Fitri adalah dalam rangka saling mencintai sesama Muslim seperti dalam hadis: waaw sathuha yuhibbu liakhihi maa yuhibbu linafsi (persamaannya adalah seperti mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya).



Tanggal: 21 Oktober
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Halal bil halal

Halal bil halal berasal dari anjuran Allah dalam surat Ali-Imran: 133 dan At-Taghabun: 14 seperti berikut.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS 3, Ali-Imran: 133)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64, At-Taghabun: 14)

Maaf memaafkan dalam Islam memiliki empat bentuk yaitu:
1. Memaafkan (waan ta’fu);
2. Membuka lembaran baru (watasfahu);
3. Berjabatan tangan (wata’faru), dan di atas segala-galanya adalah
4. Saling mencari ampunan Allah (wataghfiru).

Cara pemberian maaf yang paling besar dicontohkan di dalam Al-Qur’an, atas penyebaran berita bohong tentang tindakan nista yang dituduhkan pada istri Rasulullah, Siti Aisyah RA. Semua berita ini hanyalah bohong yang ternyata awalnya disebarkan oleh sepupu Abu Bakar Siddiq RA sendiri. Semua berita nista itu adalah fitnah seperti firman Allah pada An-Nur: 12-20.

Setelah mengetahui sumber berita bohong tersebut adalah sepupunya, Abu Bakar kemudian bersumpah bahwa beliau tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. namun, tindakan ini kemudian ditegur oleh Allah melalui Rasul dengan turunnya surat An-Nur: 22 sebagai berikut:

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 24, An-Nur: 22)

Allah juga pernah menegur Rasulullah yang merasa sangat kecewa atas perangai para sahabat yang telah menyebabkan kekalahan besar umat Isalm dalam perang Uhud. Allah memperingatkan Rasul untuk memberikan maaf seperti terdapat dalam Ali-Imran: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS 3, Ali-Imran: 159)



Tanggal: 27 Oktober
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir surat At-Takatsur

At-Takatsur berasal dari kata katsirun dan katsaro. Kata takatsur sendiri berarti persaingan atau perlombaan. Surat ini memiliki keterkaitan erat dengan surat-surat lainnya seperti surat Al-Qariah dan Al-‘Asr. Ketiga surat ini pada dasrnya mengajarkan bahwa semua makhluk memiliki masa hidup (life span) yang terbatas – dalam bahasa Arab: abalin musamma.

Surat Al-Qariah mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu di seluruh alam raya ini pada akhirnya akan lenyap dan hancur. Semua kehidupan umat manusia akan ditransfer ke kehidupan berikutnya yang kekal. Business-wise, ini sungguh merupakan sebuah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia. Bila kita hidup sesuai dengan perintah Allah yang hanya berlangsung beberapa puluh tahun saja, tapi akan dibalas dengan ganjaran berupa kenikmatan yang berlangsung tanpa batas. Analogi untuk ini adalah seperti dalam olah raga maraton. Kita diberi petunjuk untuk jangan menghambur-hamburkan kesenangan dunia yang hanya sesaat, karena kita akan menghadapai kesenangan yang kekal di akhirat kelak.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Berlomba-lomba telah melalaikan kamu

Ayat ini terkait sangat erat sekali dengan surat Al-Asr: 2

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kata al hakum berasal dari lahwun lahaa alhaa yang berarti melalaikan atau membelokkan (divert).

Kompetisi (berlomba-lomba) ini meliputi semua aspek hidup bukan hanya berlomba dalam menumpuk kekayaan. Pesan intinya adalah: dalam setiap hal, manusia dilarang melakukannya berdasarkan hawa nafsu (self interest). Dengan kata lain, kita sesungguhnya harus mampu me-manage hawa nafsu (self interest).

Dalam pengertian sekuler: hidup dianggap ada bila terjadi pertumbuhan. Dalam Islam, hidup terjadi bila adanya pertemuan antara jasad (physical condition) dan ruh. Sementara pertemuan antara jasad dan ruh ini akan menghasilkan kelakuan (behavior). Bila jasad kita sakit, maka ini akan mempengaruhi jiwa. Demikian juga sebaliknya bila jiwa kita sakit, maka akan mempengaruhi badan/jasad kita. Statistik mengatakan bahwa 70% oarang sakit sebetulnya kondisi fisiknya tidak sakit, jadi lebih karena kondisi kejiwaannya yang sakit (psychomatic).

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS 2, Al-Baqarah: 28)

Al-Qur’an memberikan garansi bahwa: bagi mereka yang bertaqwa dan melakukan amal sholeh, maka akan terbebas dari ketakutan dan kesedihan.

Ayat ke 2 At-Takatsur diberikan di sini:

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kubur.

Ayat ini ada yang menterjemahkan: sampai kamu mengunjungi kuburan, sedangkan beberapa tafsir menafsirkan: sampai kamu masuk liang kubur (mati). Tafsiran yang pertama lebih baik karena dengan demikian, manusia akan memiliki waktu untuk memperbaiki dirinya ketika dia mengunjungi kubur dan ingat akan kematian yang segera akan datang.

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

ta’lamun mempunyai kata dasar ‘ilma, ya’lamu dan ilman. (............. bersambung).


Tanggal: 28 Oktober
Ustadz: Drs. Tarmidzi Firdaus
Topik: Korupsi adalah musuh Islam

Seusai perang Uhud, Rasulullah tidak menemukan salah seorang sahabat yang bernama Said bin Rabid RA. Beliau kemudian memerintahkan beberapa sahabat lainnya untuk mencari Said bin Rabid ini untuk memastikan bila Said telah gugur, terluka parah atau sebab lain yang mengakibatkan ketidakhadirannya. Ternyata, akhirnya Said ditemukan dalam keadaan terluka akibat 12 tusukan pedang yang menyebabkan dirinya tidak dapat hadir bersama Rasulullah. Namun, kata-kata pertama yang ditanyakan oleh Said ketika ditemui adalah kekhawatirannya tentang nasib Rasulullah. Inilah gambaran betapa besarnya kecintaan para sahabat terhadap Rasul yang melebihi kecintaan pada dirinya sendiri, bahkan ketika dirinya dalam keadaan sekarat.

Suatu saat Rasulullah menolak ketika diminta untuk melaksanakan shalat jenazah atas seorang sahabat yang meninggal, meskipun Rasul tetap mendorong sahabat yang lain untuk tetap menyolatkannya. Tindakan Rasul ini dilakukan ternyata karena si sahabat pernah mengambil harta rampasan untuk dirinya sendiri sebelum resmi dibagikan, meskipun nilainya hanya sekitar 2 dirham. Kesimpulannya: korupsi betapapun kecilnya tidak dapat ditoleransi dalam Islam.

Seusai sebuah peperangan, Rasulullah diberi hadiah seorang budak berkulit hitam. Dalam peperangan berikutnya, si budak ini akhirnya juga terbunuh. Para sahabat mengira bahwa si budak ini akan dijamin segera masuk surga kelak karena telah mati sahid. Namun Rasul mengatakan si budak ini akan tertolak masuk surga karena dia telah mengambil sepasang tali terompah (sandal) untuk dirinya sendiri sebelum harta rampasan tersebut semuanya dilaporkan dan dibagikan secara resmi. Kesimpulannya: kita masih tetap harus bertanggung jawab atas semua hutang kita meskipun kita meninggal dalam jihad. Mati dalam jihad tidak serta merta menggugurkan hutang-hutang kita.

Ketika sedang berlangsung suatu pertempuran, seorang sahabat beristirahat sambil makan buah kurma. Kemudian dia mencampakkan buah kuram tersebut seraya berkata: “Bila aku tetap menghabiskan makan buah kurma ini sementara perang sednag berlangsung, niscaya aku termasuk orang yang serakah dan dholim.” Maka dia campakkan buah kurma tersebut dan mengangkat pedangnya untuk berperang.

Semua itu adalah pelajaran bagaimana kredo Islam dibangun semasa Rasulullah.

Wednesday, November 28, 2007

Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya

(xxviii + 209 hal; Harga: Rp 50.000 + ongkos kirim; pemesanan ke: tsaksono@gmail.com)

Sinopsis:

Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang tiada pernah kering. Banyak rahasia alam yang telah disampaikan berupa sabda Allah melalui Muhammad, Rasulullah SAW, yang baru terbukti ratusan bahkan ribuan tahun kemudian. Namun, meskipun telah banyak bukti-bukti ilmiah tentang kebenaran Al-Qur’an, para pemuja materialisme, para sekuler dan para ateis, masih terus membantah kebenaran-kebenaran Al-Qur’an karena ketakutan akan implikasi mengakui keberadaan Sang Pencipta. Selain itu, mereka hanya melakukan pembenarannya atas bukti-bukti logika (baca: matematis, empiris, biologis, sosiologis) sebagai dasar pijakan postulatnya. Yang mereka lupakan adalah beberapa fakta bahwa pijakan Euclidean yang paling mendasar dari ilmu matematika yang mereka gunakan untuk pembuktianpun ternyata berpijak pada postulat axiomatis, bukan pada pembuktian matematis. Selanjutnya buku ini juga membuktikan bahwa seluruh building blocks ilmu pengetahuan moderen yang kita agung-agungkan yang meliputi antropologis, sosial, hukum, ekonomi dll sebetulnya dibangun berdasarkan dogma-dogma postulat, bukan merupakan pembuktian ilmiah.


Sebagai intinya, buku ini membuktikan secara ilmiah bahwa dengan memperhatikan posisi astronomis Bumi dalam tatasurya kita, kondisi geografis dan pedoman syariah dalam perintah sholat lima waktu, maka manusia sebetulnya sedang mengiringi sebuah orkestra akbar simfoni dzikir jagat raya yang tidak pernah terputus satu detikpun dalam 600 tahun terakhir ini. Dan semuanya tampaknya telah menjadi skenario Allah SWT tanpa kita menyadarinya.

Buku Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya ini diorganisasi dalam tujuh bab.

Mengkompromikan Rukyat & Hisab

(Penerbit: Amythas Publicita; xxii + 276 hal; Harga: Rp 60.000 + ongkos kirim; Pemesanan ke: tsaksono@gmail.com)


Sinopsis

Tidak ada satu kitabpun di dunia ini yang setiap katanya dikaji begitu dalam oleh jutaan atau bahkan ratusan juta orang seperti Al-Qur’an. Selanjutnya, tidak ada juga perkataan, perbuatan langsung dan tindakan para pengikut dekatnya yang dibiarkan sehingga akhirnya menjadi yurisprudensi, dan menjadi bahan kajian yang dalam oleh ratusan juta manusia juga selain As-Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Kedua sumber syariah umat Islam tersebut terus diteliti dan dikaji. Setiap ayatnya begitu menarik untuk diteliti, didiskusikan, dan diper-debatkan namun semuanya tetap bermuara pada satu tujuan dan keinginan agar apa yang dilakukannya adalah dalam rangka memperoleh ridho Allah yang Maha Agung sebagai pemilik firman yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Implementasi ajaran tersebut dalam praktek sehari-hari seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW juga dikaji secara mendalam. Dengan demikian, pasti tersimpan suatu yang luar biasa di kedua kitab yang telah menyebabkan ratusan juta orang itu begitu tersihir untuk mengkajinya dari waktu ke waktu selama sekitar 1.400 tahun belakangan ini.

Itulah yang telah terjadi dengan kata ru’yat yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diinterpretasikan sebagai melihat secara visual oleh sebagian ulama, se-mentara segolongan ulama lain menginterpretasikannya dengan melihat secara kognitif. Banyak kalangan yang mencibirkan bibir dengan nada sinis karena umat Islam Indonesia selama lebih dari lima puluh tahun selalu berselisih tentang interpretasi kata rukyat ini dalam menentukan awal bulan Islam (Qomariah) terutama pada penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sebetulnya umat Islam harus justru bangga dengan semua perdebatan ini karena ini sekali lagi membuktikan bahwa umat Islam memang sangat hati-hati dan selalu berujung pada harapan untuk memperoleh ridho Allah SWT dalam melaksanakan perintah Allah melalui kitab suci-Nya.

Buku Mengkompromikan Rukyat & Hisab ini adalah merupakan kajian akademis dengan melakukan kajian melalui pemahaman ilmu-ilmu kauniyah (pengetahuan keduniawian seperti: sosial, politik, ekonomi, filsafat, teknologi, matematik, statistik dan ilmu kealaman lainnya). Dengan cara ini, penulis berusaha melepaskan diri dan mendudukkan dirinya menjadi seorang pengamat yang independen dari perdebatan yang ternyata sebetulnya sama-sama menggunakan dalil-dalil syariah yang sama (ayat Al-Qur’an dan Hadits) namun ternyata setelah lebih dari 50 tahun tidak pernah dapat dipertemukan. Dengan memposisikan sebagai pengamat yang independen ini, penulis berupaya melakukan kajian-kajiannya melalui ilmu-ilmu astronomi, matematik, statistik, dan sebagainya, sementara semua ilmu tersebut tetap bersumber dari Allah sebagai penguasa seluruh isi alam semesta dan sumber hakiki atas semua ilmu. Buku ini diorganisasi dalam enam bab.

Saturday, November 24, 2007

Astronomical Calculation as a Foundation to Unify International Muslim Calendar: A Science Perspective

In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful


Dr. Tono S
aksono[2]
(tsaksono@gmail.com)

Introduction
Issues on method for determining the beginning of lunar month in connection with Muslim law has created controversy in Ind
onesia. The controversy occurs especially when one has to follow the methodology: by moon sighting (rukyat) or by means of astronomical and mathematical calculation (hisab). Indonesian Muslims have long been experiencing the split between the proponents of astronomical calculation on the one end, and moon sighting on the other. Fortunately though, the split has not created any disharmony in our religious affairs nor in our daily social lives in spite of the fact that this has been going on for almost fifty years. The controversy has, however, taken up a lot of energy with all the pros and cons. Furthermore, this has created frustration among the majority of Muslims when they have to decide as to what method they have to follow. For a member of an organization that is the proponent of any madzhab (school of thought), they normally have either emotional as well as cultural ties to follow whatever decision taken by the organization. However, for those who have no any cultural connection with any madzhab, the decision is difficult indeed.

The same problems with brother Muslim in the United States
The similar controversy apparently comes to the spotlight recently to brother Muslim in the United States when on August 13, 2006, the Islamic Society of North America (ISNA) decided to use the astronomical calculation to replace the moon sighting method in marking the beginning of Ramadan and other sacred Muslim months. Such a decision has created protest from Muslim scholars from all over the world despite the fact that ISNA has been practicing the moon sighting methods for tens of years to come up with a conclusion that Muslims in North America need to have a more reliable Muslim calendar with which they will be able to propose days off for Muslim employees who need to perform Eid prayers. With moon sighting as the only means to mark the beginning of a lunar month, ISNA had found it difficult to negotiate with the American government and the business community alike to propose a day off for Muslim employees to perform Eid-ul-Fitr or Eid-ul Adha prayer because of its high degree of uncertainty. With a more reliable calendar developed through mathematical and astronomical calculation, ISNA will be able to propose days off for Muslims employees well in advance, at least one year earlier because the technique is able to mark the sacred days with highest degree of accuracy.

Many Muslim scholars, however, do not really appreciate the fact that ISNA’a fatwa (decree) actually takes effect after as long as thirteen years
involved in scientific research starting when it joined the Committee for Crescent Observation (CFCO[3]) in 1994. During the period of time, ISNA undertook a comprehensive moon sighting practice and research by sending hundreds of volunteers (hilal observers) every month to places that are ideal for moon sighting practice all over the United States and Canada, and come up with a conclusion that moon sighting is completely unreliable for determining the Muslim calendar in a modern society where all business transaction and government committment have been bound by time contraints dan deadline.
Islamic Laws for Ramadan. The foremost legal ground for saum (fasts) during Ramadan is revealed by Allah SWT in:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ramadan is the (month) in which was sent down the Qur'an, a guidance for mankind, also clear (proofs) for guidance and judgment (between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month, he must observe saum (fasts), and whoever is ill, or on a journey, the prescribed period (should be made up) from other days. Allah intends ease for you; He does not want to make things difficult for you. (He wants you) to complete the prescribed period, and to glorify Him in that He has guided you; so that you may be grateful to Him. (HQ, Al-Baqara: 185)

The above verse only reveals the broad idea of the prescri
bed fasting during the month of Ramadan, without detailing as to when the Muslims have to start the saum. The detail is however revealed in the next verse of the same chapter:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

It is made lawful to you to go unto your wives on the night of the fast. They are apparel for you and you are the same for them. Allah is aware that you were deceiving yourselves in this respect and He has turned in mercy toward you and forgave you. So now be in contact with them and seek what Allah has ordained for you, and eat and drink until the white thread becomes distinct to you from the black thread of the dawn, then complete the fast till night, and have no contact with them while you are in your devotion in the mosques. These are the limits imposed by Allah, so approach them not. Thus does Allah make clear His ayah for men that they may guard (against evil) (HQ, Al-Baqara: 187).

In the debate on the dispute of
astronomical calculation method versus moon sighting, many Muslim brothers and sisters always referred to prophetic sayings (hadith) which too, give the details as to when to start and to end the holy Ramadan, they are quoted:

Do not fast till you see the new moon, and do not break fast till you see it” (Saheeh Muslim)

Ibnu Umar (ra), reported Allah’s Messenger (pbuh) as saying: ”When you see it[4] then you must observe saum, and when you see it, then break your fast; but if it is overcast, then calculate for it. (Saheeh Muslim)

Obviously, Allah uses different words when expressing the meeting of His ummah with the month of Ramadan (شَهِدَ) and when He ordered the Messenger (pbuh) to give the details of the timing to start and to end the saum by using words tara (تَرَو) and raaytum (رَأَيْتُمْ) upon the sighting of hilal (crescent) at the sunset. Another word of similar importance in the quoted hadith is faqduru that has the same root as word qaddara (قَدَّرَ) which simply means to calculate, to measure, or to decide. The dispute arises in interpreting whether or not we have to sight the hilal physically.

The proponents of moon-sighting firmly believe that the words tara (تَرَو) and raaytum (رَأَيْتُمْ) in the above-quoted hadiths are something to do with the act of seeing the hilal physically. Some Muslim scholars even decline any use of modern instrument (such as binoculars, telescope and so forth) in lieu of direct eye sighting, claiming that this is the message from Allah for those who live in the remote area for whom such technology is unreachable[5]. However, we immediately sense inconsistency in this matter. If being universal really matters irrespective of human achievement in science and technology, we then have to stick with Allah’s guidance upon the commencement of saum in the above verse: until the white thread becomes distinct to you from the black thread of the dawn. Apparently, we are now using modern instrument (clock, wristwatch and so forth) as a representation of advanced mathematical calculation and the advent of human technological achievements.

In the mean time, the proponents of mathematical and astronomical calculation (hisab) believe that the act of seeing in the above hadiths is not necessarily physically as with the advent of modern astronomy, the position of any celestial body can accurately be calculated and monitored at any time from anywhere in the globe. In so doing, the words tara (تَرَو) and raaytum (رَأَيْتُمْ) simply mean to calculate it or to see it by means of knowledge, and hence the word qaddara (قَدَّرَ) emphasizes the option of mathematical calculation.

Statistics of word ro'a in the Qur'an
We firmly believe that there is no Muslim who will contest that our sources of Islamic Laws are four listed in order:

  1. The Holy Qur’an.
  2. The Sunnah, which comprises the words, deeds, and acknowledgments of the Prophet Muhammad (pbuh), as transmitted through reliable sources;
  3. The Ijmaa’ of ummah (consensus of the legal Muslim scholars);
  4. Qiyas (analogical reasoning as an effort to extract an opinion based on Islamic Law in the absence of definitive proofs).

Differences are something that we are not capable of avoiding to exist in our worldly life. They have always existed from the beginning of the creation of humankind and will continue to exist until the last day. What we have to avoid is these differences from creating fracture within the brotherhood of Islam. We firmly believe that every difference has a solution and the solution for Islamic differences is found in none other than the Qur’an and the practices of His final Messenger, Muhammad (pbuh). We have to remember that Allah has instructed:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

O you who believe! obey Allah and obey the Messenger and those in authority from among you. If you dispute over anything, then refer it to Allah and the Messenger, if you believe in Allah and the last day. This is better and very good in the end. (HQ, An-Nisa: 59)

If we refer to the hadith to mark the beginning of holy month of Ramadan we quoted before, we immediately recognize the key words in these two hadiths and many more of the same spirit. They are: tarawu al-hilalu, tarauhu, raaytumuhu and also faqduru lahu. Let us, as instructed by Allah in His holy verse quoted above, refer to the holy Qur’an and analyze these words.

The word ro’a, although originally means to see visually[6] (ru’yatul bil fi’l), apparently appears more frequently with the meaning of seeing with cognition[7] (ru’yatul bil ‘ilm) in the holy Qur’an. The word changes according to its context to become tara (تَرَ – you see or you relize/understand), or nara (نَرَى – we see or we realize/understand) or yara (يَرَى – he/she sees or he/she realizes/understands). This word and its derivatives apparently appear in 187 verses of the holy Qur’an, out of which there are 143 verses (78%) the word (and its derivatives) carries the meaning of cognitive seeing (ru’yatul bil ’ilm)[8]. Only the remaining 41 verses (22%) carry the original meaning of seeing visually (ru’yatul bil fi’l). Should we be interested in the number of chapters instead, then ru’ytaul bil ’ilm is contained in 61 chapters (68%), whilst ru’yatul bil fi’l is contained in 29 chapters (32%). From this proportion alone, we immediately sense the clear message from the Omniscient Allah SWT that He actually wants us to make use of our intellectual capacity as human rather than just our capability of seeing. Table-1 and Table-2 respectively show verses that contain the word ro’a when it means seeing visually and cognitive seeing. Moreover, a great deal of verses to contain word ro’a in Table-2 carries the meaning of seeing the unseen (ghaib). There is no doubt that this kind of act of seeing is of highest level as it is related to faith, and cannot be included into seeing physically[9].

Let’s take a look at the process of seeing which will start with a bundle of light coming from a light source (the sun or flash light) that fall unto an object that is further reflected into the lens in our eyes. The process of seeing actually happens in stages. A bundle of rays called photons move from the object into the eyes through a lens that is located in the front part of the eyes. These incoming rays are further gathered to form an image that is smaller in size and was imaged upside down within the eyes’ retina. This bundle of rays are further sent to the brain as electrical pulse through neurons and continue to reach the so called the center of vision in the back part of our brain. As such, the process of seeing actually takes effect in this tiny center of vision that is located in an isolated part of the brain. This is a light proof part of the brain that is completely dark with not a single ray of light can reach therein, similar to back part of our old optical camera. The colorfulness of flowers and the beauty of panorama we encounter in our worldly life are therefore just electrical pulses that reach our center of vision. The brain will then execute even more important step what we call a mental or psychological process by interpreting the form, position, orientation, size, color, and texture of the object, and then matching it with virtually countless images that are already stored in the human’s memory. This is called a cognitive process that constitutes the most important part of the process of seeing. If one loses his/her sight when he has reached adult age, he/she can still perceive the colorfulness of the worldly life around him because his/her brain is still working perfectly. However, if one damages his/her brain, he/she will not be able to transform an imaged picture in his retina into a meaningful message.


Sharia to support calculation
Allah has instructed us to make use of our utmost intellectual capacity to think deeply about all signs in His ayah (essentially the whole universe He has created for humankind):

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّ
رَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

It is He Who made the sun a shining thing and the moon as a light and measured out its (their) stages, that you might know the number of years and the reckoning (of time). Allah did not create this but in truth. He explains the Ayah (lessons, revelations) in detail for people who have knowledge. (HQ, Yunus: 5).

The above verse embraces all two key
words we are disputing blatantly so far. It simply says that the hilal’s position may be calculated, and this is in compliance with Allah’s command so that we know the reckoning of time. Of paramount importance is that Allah wants us to make use of our utmost intellectual capacity as human beings. These two words are waqaddarahu (وَقَدَّرَهُ) that simply means and measured out (this is exactly the same word as that is used in the above quoted hadith), and hisab (الْحِسَابَ) that simply means the reckoning (of time). Further than that, these two words are enhanced within the same verse to show that Allah explains His ayah (signs, proofs, revelation, guidance, etc) for people who have knowledge (لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ). It is very obvious, the above verse is trying to say that Allah loves His servants who have knowledge, those who think deeply to know the number of years and the reckoning of time with the help of whatever exists in the whole universe that has been created for us so that we keep learning how Great He is. Subhan Allahu . . . Allahu Akbar. Isn’t it really showing how Allah has put us in a very honorable position? So why should we keep disputing every time whilst we are ignoring Allah’s command to think, contemplate and analyze the greatness of Allah through whatever exist in the whole universe He has created for us? Therefore, seeing is not supposed to be just physically, but think deeply and thoroughly.

Human error in moon sighting
In statistics we learned what we consider as errors t
hat comprises of gross, systematic, and random errors. Human error is prone to end up with gross error (blunder) whose magnitude is unpredictable. In any decision making system, such error should be avoided whatever it costs! Such error may come from wrong reading the number 25 instead of 52, for example. Or someone reads 500 grams when the scale reads only 50 grams. This type of error is typical human error especially when he/she is under strong psychological pressure and very strict time constraint. This is what happens to many crescent observers (hilal observers). Their psychological burden is huge as they have to shoulder spiritual consequences within very limited time of only 15-60 minutes as the hilal soon sets to follow the sun[10]. Binary type of decision (on or off, black or white, right or wrong, visible or invisible) always reserves full of serious error of this kind. If we are consistent in seeking the pleasures of Allah, why should we then so obvious in risking our faith to something that is very prone to gross error like this? In the mean time, the classical problems with moon sighting are as follows:

  • Weather and atmospheric condition of the Earth (cloud, fog, haze, pollution, etc);
  • Crescent altitudes. ISNA conculdes that the crescent altitude must be in the order of 12 degress in order to be visible;
  • Distance between the Moon and the Sun (if it is too close, the twilight is still too bright so that it is practically almost impossible to see the crescent);
  • Quality of observer’s eyes;
  • Quality of optical instrument;
  • Psychological condition of the observer (within time contraint of 15-60 minutes!);
  • Cost;
  • Above all, it is a very subjective matter because all ummahs have to rely only on a few people (ie. hilal observers) without being able to access the transparency of the process of seeing.

In Indonesia, we have data that a crescent observer trainee has to be trained for teens of years to end up with wrong decision when he interpreted a gloomy slit between clouds as crescent. Other trainee who has been practicing moon sighting for decades, end up with joy of seeing hilal but it was up side down?[11] These are very typical human errors that end up with blunder and we have to avoid it, whatever the price is. In the calculation method, blunders insha Allah can be avoided by applying double check calculation. To some extents, systematic error can be eliminated within the calculation system that will be too technical to be discussed in this paper. What remains is random error that cannot be removed however versatile our computation system be. Even so, this error is normally within the tolerable magnitude that will not affect the end results too significantly. To larger extents the latter is even useful because statistical measure of standard deviation is actually derived from such error. In so doing, we will have a feeling how precise our calculation is. Of highest importance is the transparency of the process whereby all ummahs will be able to double check the whole calculation process.

Ramadan during the period of Rasulullah
Astronomical and mathematical calculation can not
only be used to precisely calculate the beginning of Muslim lunar month but also a more complex astronomical calculation such as solar or lunar eclipse that is going to happen in a hundred of years to come, for example. The calculation is so accurate in such a way that people are even able to tell when it will happen, the duration of astronomical event, and the size of umbra and penumbra, very accurately. Alternatively, the astronomical calculation is also able to accurately calculate the beginning of Muslim lunar month 1,400 years back in order to analyze the Ramadan during the period of Rasulullah SAW as shown in Table-3.


The table shows accurately the astronomical characteristics of crescent that had happened 1.400 years back. At the same time, it also reveals scientific facts that what we are practicing today is, very often, not in agreement with what Rasulullah had precisely practiced in the past. Some examples are given here: In general, the proponents of moon sighting put a minimum altitude of the crescent in the event of moon sighting process to be higher than 4o as conditional requisites in order to avoid the brightness of the sun’s twilight attenuate the process of sighting. If this condition is not fulfilled, these Muslim scholars normally perform isti’mal or a consensus to complete the fasting month to thirty days regardless of the fact that the astronomical calculation confirms the existence of crescent in the western horizon. A closer look at astronomical characteristics of Ramadan during Rasulullah era as shown in Table-3 reveals the following facts:

  • Rasulullah performed saum during Ramadan only nine years from 2H (624AD) until 10H (631AD, inclusive);
  • There were six times that the Ramadan had 29 days, whilst only three times it had 30 days. Some hadiths says that Rasulullah performed a 30-day-Ramadan only 2-3 times, the rests were only 29 days. The astronomical calculation therefore strongly confirms the quoted hadiths;
  • Out of nine Ramadan in the era of Rasulullah SAW, six of them were when the crescent altitude was far below the minimum altitude of 4 degrees. Four of them were in the order of 1.7 segrees-2.7 degrees and this occurred even in the event when Ramadan was only 29 days (see highlighted part of the table). These facts simply indicate that Rasulullah and shahabats (i.e. immediate followers) undertook the moon sighting far more serious ly than what we are doing now. Above all, isti’mal was not actually practiced although Rasulullah gives a way out in his hadiths. It is believed that this is just an escape path in the event that the beginning of the Syawal is not possibly determined for any possible reason in the future.

Accuracy of Astronomical Calculation
The main reason that astronomical calculation is able to foresee the eclipse that is going to happend in the next hundred of years, or to calculate the characteristics of Ra
madan that occured 1.400 years back as shown in Table-3 is because modern man is actually capable of calculating the behavior of almost all celestial bodies very accurately. Back in 1990s, an astronomical navigation system was able to determine a position on the surface of the earth to the accuracy of 3 cm. Nowadays, the accuracy of better than 1 mm can even be obtained with the advent of modern navigation system like the Global Positioning System (GPS). Astronomers are actually using a similar method in calculating the eclipse forecast and to calculate the Ramadan in the era of Rasulullah SAW as shown in the abovementioned table.

As part of an effort to show the accuracy potential of astronomical calculation to prepare an international Muslim calendar, this paper also shows the most important part of a Muslim calendar for the period of five years to come (1428H – 1432H) as shown in Table-4.

All astronomical calculation in this paper is performed to the accuracy level that is described by the statsitical standard deviation of 3,6 seconds. Of primary importance in the table are data for:

  • End of Sya’ban;
  • First day of Ramadan;
  • End of Ramadan;
  • Eid-ul Fitri;
  • End of Dzulqaidah
  • First day of Dzulhijjah;
  • Eid-ul Adha

In addition to those, the table also gives important information such as, the corrsponding Gregorian date, time lag between the instance of moonset and sunset, crescent altitude, and additional information to mark the quality of the crescent in order to accommodate the interets of our brothers and sisters, the proponents of moon sighting method.

From the table we are able to foresee some possibility that may occur in the next few months when it is related to Muslim sacred months. Insya Allah, end of Sya’ban 1428H will coincide with the instance when sun sets on September 12, 2007. At that time, the crescent’s altitude will be 8.5o whilst the moon will set 34 minut and 42 seconds after the sun sets (marked ”A” in the above table). With such a high crescent’s altitude, insya Allah, there will be no difference in the interpretation of the beginning of Ramadan 1428H between moon sighting (ru’yat) and astronomical calculation (hisab) proponents. A potential difference will however occur in deciding the end of Ramadan which astronomically will coincide with the timing when sun sets on October 11, 2007. The crescent’s altitude at that time will be as low as 0.6o, far below 4o the minimum criterium to perform moon sigting. At this point, the moon will set only 2 minut and 35 seconds after sun sets, far too short for a crescent observer even to prepare all his instrment and paper to record his observation. As such, the proponent of moon sighting wll most likely to draw a traditional consensus of isti’mal to complete the 30th day of fasting on October 12, 2007. In the mean time, the proponent of astronomical calculation will break the fast and perform Eid-ul Fitr on the October 12. Furthermore, astronomical calculation concludes that the end of Dzulqaidah will be coincident with the sunset of December 10, 2007 with the crescent’s altitude of 7.5o. This means, the moon will set 34 minutes and 2 seconds after sun sets which will give sufficient time for crescent observer to complete and conclude his observation. In this way, 1st of Dzulhijjah will be coincident with December 11, and Eid-ul Adha will be on December 20, 2007 (see Table-4). Wallahu ’alam, Allah knows best.

Finally, a comprehensive Muslim calendar must also accommodate the interests of brother Muslims who stick with their decision that seeing hilal in the event of determining the beginning of Muslim lunar month must be a visual seeing. This paper therefore propose that the Muslim calendar must also include all information needed by these Muslim brothers and sisters. The attached figure in the Appendix shows a mock up sample of such calendar which is the extension of all information contained in Table-4.

Allah’s verdict will be thorough, accurate and transparent
Astronomical and mathematical calculations teach us a very important lesson that all decision related with the Islamic laws (sharia) must be carried out thoroughly, accurately and transparently. Binary type of decision: right or wrong, black or white, visible or invisible, especially if it relies only on a few people without check and rechecks mechanism is simply error prone and to a lesser extent is dangerous, and therefore must be avoided. Even in the hereafter, Allah the Highest and Omnipotent Judge will not try us with binary type of judgment (right or wrong). Instead, He will deliver His verdict very accurately and transparently based on all information that has been collected during our lives as demonstrated in these verses:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

And the Book (one’s Record) will be placed (in the right hand for a believer in the Oneness of Allah, and in the left hand for a disbeliever in the Oneness of Allah), and you will see the Mujrimoon (criminals, polytheists, sinners, etc.), fearful o

f that which is (recorded) therein. They will say: "Woe to us! What sort of Book is this that leaves neither a small thing nor a big thing, but has recorded it with numbers?" And they will find all that they did, placed before them, and your Lord treats no one with injustice. (HQ, Al-Kahf: 49).


الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

This Day, We shall seal up their mouths, and their hands will speak to Us, and their legs will bear witness to what they used to earn. (HQ. Ya Seen: 65).

وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ و

َلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ

And you have not been hiding against yourselves, lest your ears, and your eyes, and your skins testify against you, but you thought that Allah knew not much of what you were doing. (HQ, Fussilat: 22).

Who will contest the Most Powerful Allah SWT in the hereafter should He deliver His final verdict without revealing detailed testimonies of our deeds (the good and the bad)? And yet, Allah will not do this because Allah wants to show that His decision will be thorough, transparent, precise, complete, and just. It is therefore obvious that Allah also wants us to use all detailed information when we decide to start or to end the month of Ramadan and Dhulhijjah. In so doing we then have to make use of our utmost intellectual capacity as human beings.

Muslims must be advanced in science and technology
Finally, let us quote a very good challenge revealed by the Omnipotent Allah SWT in Ar-Rahman: 33:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

O assembly of jinn and men! If you have power to penetrate beyond the zones of the heavens and the earth, then pass through. But you will never be able to pass them, except with authority (from Allah)!

This verse started with Allah’s call to all genies as well as humankind irrespective whether or not they are Muslim. This call even applies to those who are disbelievers and transgressors, free from primordialistic barrier (religion, ethnicity, or nation). Allah gives a total freedom to all of them (and us) to penetrate beyond the zones of the heavens and the earth, and this is what has been better used by westerners (although they do not have to be aware of such opportunity) who work and think harder in their effort to scrutinizing the wonder of the universe Allah has created for us. In return, generally they are all better off than we are as Muslims, scientifically, technologically, socially, militarily, as well as culturally. In the mean time, we seemed to be too allergic in adopting any technology in such a way that we are now far behind in all aspects of worldly lives. We may argue that the life in the hereafter is far better than what we have in the world now, and this is what we are aiming. Then, why should we are using mobile phones, internet and so forth to communicate after all, if we really do not need the glory in the worldly life as well as in the hereafter. If Islam was so advanced culturally, scientifically and technologically during the 8th - 15th centuries, why should not we be now if we work and think harder?

Finally, the following hadith demonstrates the importance of knowledge for Islam and its development[12]: Mu’adh ibn Jabal (ra) said that the Messenger of Allah (pbuh) said:

Learn Al-Ilm (knowledge), for learning it is a type of Khashyah (Fear) of Allah, seeking it is an act of worship, studying it is a type of Tasbih (glorifying of Allah) searching for it is a Jihad, teaching it to those who do not know it is a charity and delivering it to those who worthy of it is an act of drawing closer (to Allah). Knowledge is the reference guide to the allowed and the disallowed, a light on the path for the people of Paradise, the companion during the loneliness, the friend during estrangement, the converser during seclusion, the guide in times of ease and times of difficulty, a weapon to use against the enemies and the quality that is valued by friends. Allah elevates some people by knowledge to the rank of leaders in righteousness who are followed, their actions imitated and their opinions referred to. The angels long to attend their gatherings (of learning knowledge) and shade them with their wings. Everything wet or dry, the fish in the sea and its creatures, beasts of pray and cattle that live on land invoke Allah to forgive them (people of knowledge). Verily, this is because the life of the heart against ignorance and the lamps of the eyes against darkness. With knowledge, the slave reaches the rank of righteous and the elevated grades in this life and hereafter. Thinking about knowledge is equivalent to Siyam (Fasting), and studying it is equivalent to Qiyam (praying at night voluntarily). With knowledge, ties of kinship are kept and the allowed and prohibited become distinguished. It is the Imam (Leader) of all actions and all actions follow its lead. Only the happy ones are endowed with knowledge while the miserable ones are deprived of it.


Conclusion
Allah’s message revealed through the proportion of the meaning of the keyword ro’a contained in Table-1 and Table-2 is very obvious. It simply means that Allah wants us to make use of our utmost intellectual capacity in determining the beginning of a month in a Muslim calendar. The decision over it must be based on thorough, accurate and transparent work as Allah also will deliver His final verdict in the day of resurrection transparently, accurately, thoroughly and justly. THiHiHherefore, it is sufficient to conclude that the beginning of the holy month of Ramadan, Shawal, Dhulhijjah and other months must be determined by means of science and technology. As astronomical calculation is currently the most advanced technology available, the Muslim calendar must then be calculated based on such calculation. If in the future, moon sighting technique is technologically more reliable and gives more accurate results, then all Muslims should replace the technique accordingly.

It is now the right time for Muslims all over the world to have its proleptic calendar that can be prepared well in advance based on astronomical calculation. There are computer programs that are available in public domain that are very useful for such tasks. We will not be able to create such calendar when we stick to the visibility of hilal to mark the beginning of a Muslim month due to uncertainties with the moon sighting technique. Furthermore, all Muslims should work hand in hand in promoting the use of Muslim Calendar to gradually replace the solar (i.e. Gregorian) calendar for our daily lives. Allah has commanded the Messenger (pbuh) to delete the 13th month of the early pagan Arab luni-solar calendar that linked the calendar with seasonal ceremonies that involved idols (contestants) of Allah. This is the ultimate essence of using a pure lunar calendar for Muslims.

Acknowledgement
The author gratefully acknowledges the use of two computer programs developed by two Muslim scientists. They are Accurate Times developed by Mohammad Odeh and MoonCalc developed by Dr. Monzur Ahmed. These two computer programs are available in public domain and have been extensively used for the research. The research also concludes that these two programs are very accurate with achieved a-posteriori standard deviation as small as 3.6 seconds. May Allah bless these two Muslim brothers who have generously distributed these two programs for the development of Islam for free in the public domain. The author also acknowledges the help of al-ustadz Muhammad Mourist and Tarmidzi Firdaus who have checked the syaria aspect of the original research work. Special thanks are also for Muslim brothers and sisters at Masjid Baabut Taubah, Kemang Pratama, Bekasi and colleagues at the Central for Islamic Studies for their active role in the discussion.

References

  1. Aejaz, H.A.R., Axing of Methodology, 9 p.
  2. Darussalam, 2000. Selected Friday Sermons. Darussalam Publishers and Distributors, Riyadh, 388 p.
  3. Dremali, I. Calculation or Eye Sighting, 4 p.
  4. Hilal Sighting Committee of North America, 2006. A Refutation to ISNA/Fiqh Council’s Decision, 10 p.
  5. Memon, M.I., Moon Sighting for the Month of Ramadan, 3 p.
  6. Ruskanda, F., 1996. 100 Masalah Hisab & Rukyat. Gema Insani Press, 98 p.;
  7. Rydan, A.S. Moon Sighting: Hand in Hand with Calculations. World Federation of Khoja Shia Ithna-Asheri Muslim Communities.
  8. Saksono, T, 2007. Why not Consider Ru’yatul ‘Ilm: A Report from the Center for Islamic Studies, Indonesia. Article #902, www.irfi.org.
  9. Saksono, T, 2007. Mengkompromikan Rukyat dan Hisab (in print). Amythas Publicita, Jakarta, 300 p.
  10. Yusuf, H. 2006. Cesarean Moon Births, Part I, 22 p.Yusuf, H. 2006. Cesarean Moon Births, Part II, 17 p.

[1] Presented at the International Symposium: Towards the Unified International Muslim Calendar, Sahid Hotel, 4-6 September 2007, Jakarta. This paper reflects the summary of a research work conducted by the Center for Islamic Studies, Indonesia. The work itself is in the process of printing entitled: Mengkompromikan Rukyat & Hisab.
[2] Director, the Center for Islamic Studies, Indonesia.
[3] Prominent ulemas, Muslim scientists (Astronomy, Mathematics, Computing), and trained hilal observers are involved at CFCO (see Reydan)
[4] Hilal
[5] See Memon (reference 5)
[6] Visual: adj. of gained by seeing - Longman Dictionary of Contemporary English, 1991, p. 1176.
[7] Cognition: the act or experience of knowing, including consciousness of things and judgment about them – Longman Dictionary of Contemporary English, 1991, p. 189.
[8] This paper does not intend to claim that the inventory is complete. It might have missed some verses unintentionally, but it is believed that it will not change the proportion significantly let alone dramatically.
[9] In the Day of Resurrection, the way we see is believed to be different from what we do now – Wallahu ‘Alam.
[10] Hilal altitude of 12o will give the moon-observer approximately 48 minutes before it sets in the western horizon.
[11] See reference 6.
[12] Reference 2, p. 28-29.