Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Friday, June 7, 2019

Hadis Ayyamul Bidh kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global


Untuk yang kesekian kalinya, ummat Islam bukan saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia terpecah dalam menetapkan 1 Syawwal 1440-H. Sebagian menetapkan 1 Syawwal 1440-H jatuh pada 3 Juni 2019, tapi sebagian yang lain pada 4 Juni 2019.

Problem utamanya adalah akibat masing-masing wilayah menghendaki dapat melihat hilal sebagai syarat untuk memasuki bulan baru dalam Kalender Hijriah.

Upaya para ahli astronomi dunia untuk mempersatukan ini dengan membangun Kalender Islam Global (KIG) seperti yang dikongreskan pada 2016 lalu di Turki, tampaknya tidak menyurutkan hasrat masing-masing negara untuk memiliki kriteria imkan-rukyat lokal, atau melalui rukyatul hilal langsung di lapangan.

Video ini menjelaskan bahwa hadis tentang Ayyamul Bidh (Hari-Hari Putih) ternyata sangat kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global (KIG). Silahkan ikuti melalui:



Tuesday, June 4, 2019

Sudah saatnya, ummat Islam mengadopsi Kalender Islam Global


Saya berusaha agar pesan ini sampai ke Bapak/ Ibu tepat jam 7:11, tanggal 4 Juni 2019 WIB. Mengapa?

Karena pada saat itu, di atas ufuk timur Jakarta terdapat hilal dengan data astronomis sebagai berikut:

  • Ketinggian hilal 164.1 derajat (dari ufuk barat);
  • Elongasi 11 derajat
  • Ketebalan penyinaran hilal 1%;
  • Umur hilal 0.9 hari.
Di detik yang sama di Mexico City, saat itu jam 19:11, tanggal 3 Juni 2019, persis maghrib. Hilal yang sama dengan yang ada di Jakarta, di Mexico City memiliki data astronomis sebagai berikut:
  • Ketinggian hilal 6.3 derajat;
  • Elongasi 8.3 derajat;
  • Ketebalan penyinaran hilal 0.4%;
  • Umur hilal 0.5 hari.
Kedua data hilal itu, saya ambil dari Stellarium dan dapat dilihat di link ini:

Adakah yang dapat menjelaskan mengapa hilal yang di Jakarta yang tebalnya 1%, elongasinya 11 derajat, dll. itu tidak boleh diakui sebagai hilal, sedangkan yang di Mexico City yang tebalnya hanya 0.4%, elongasinya cuma 8 derajat, dan umurnya 0.5 hari dll. itu harus diakui sebagai hilal?

Inilah kekacauan jika kita menggunakan kriteria imkan-rukyat lokal seperti 2-3-8 nya MABIMS atau kriteria IR lokal yang lain. Nalar akademisnya jadi kacau balau.

Ada konsekuensi yang lebih serius lagi. 

Sepanjang masa, seharusnya, Muslim di Indonesia melaksanakan ibadah mahdohnya 12 jam sebelum Muslim di Mexico karena kita ada di sebelah timur Mexico. Tapi, mendadak untuk selama sebulan penuh Syawwal 1440-H, Muslim Indonesia malah melakukan ibadah mahdohnya jadi 12 jam lebih lambat daripada Muslim Mexico. Mengapa? Karena Muslim Indonesia mengalami 30 Ramadan, sedangkan Muslim Mexico masuk Syawwal langsung dari 29 Ramadan.

Itulah kekacauan akibat imkan-rukyat lokal. Makanya, sudah saatnya seluruh ummat Islam di dunia mengadopsi Kalender Islam Global (KIG) Turki yang sebetulnya telah disepakati oleh sebagian besar perwakilan ummat Islam dunia yang menghadiri Kongres KIG di Turki 2016 lalu. Kita harus segera menghentikan kekacauan sistem manajemen waktu ummat Islam.


Friday, May 24, 2019

Data Subuh Labuanbajo Milik ISRN dan THR Kemenag


Pada 24 April 2018, sebuah think-tank group Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag mengirimkan sekitar 20 tenaga ahlinya untuk mengambil data subuh di Labuanbajo, NTT. Dari misi ini hanya diperoleh satu saja data subuh. THR mengklaim bahwa fajar dapat terdeteksi ketika Matahari berada pada dip -19,5 derajat. Mendekati apa yang selama ini direkomendasikan oleh Kemenag yang menyatakan bahwa fajar terbit saat Matahari berada pada dip -20 derajat. Sayangnya, setelah kami lihat secara teliti, ternyata data milik THR ini cacat, di samping prosesnya juga sangat manipulatif.

Padahal, dengan dana riset yang mungkin kurang dari sepersepuluh biaya THR ke Labuanbajo, ISRN telah memperoleh lebih dari 150 data. 

Sebagai salah satu upaya untuk membuktikan bahwa data THR ini cacat dan prosesnya tidak sesuai dengan kaidah akademik yang reliable, pada 12 Mei 2018, ISRN mengirimkan hanya seorang stafnya juga ke Labuanbajo. Dari data SQM yang kami koleksi di Labuanbajo ini, kami memperoleh bahwa fajar muncul saat Matahari berada pada dip -14,5 derajat. Jauh dari hasil hitungan THR yang hanya dilakukan dengan cara kira-kira dan manipulatif.

Video ini menjelaskan perbedaan jauh tentang kualitas data, cara proses, dan hasil perhitungan dip saat fajar muncul di Labuanbajo. 

Silahkan ikuti melalui



Wednesday, May 22, 2019

Untuk data subuh dan isya tidak perlu SQM yang terkalibrasi


Ada misconception yang dihembuskan oleh anggota Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag, seolah-olah data SQM yang kurang dari 21 magnitudo, akan menyebabkan pembelokkan sinar yang mengakibatkan kehadiran fajar menjadi terhambat.

Video ini membantah itu. Pengukuran sky brightness untuk studi lingkungan (misalnya meneliti perilaku satwa liar) memang memerlukan hasil pengukuran sky brightness absolut karena harus membandingkannya dengan kondisi gelap yang sesungguhnya di alam liar.

Namun, untuk penelitian awal waktu subuh, kita hanya memerlukan pengukuran sky brightness relatif. Bertambah gelap atau terangnya langit diukur relatif terhadap base point yang telah ditetapkan. Langit yang bertambah cerlang akibat kehadiran fajar pun diukur relatif terhadap base point yang sama.


Kami memiliki data pendukung untuk klaim ini. Ada data sky brightness yang diambil menggunakan dua buah SQM di empat lokasi: Bitung, Manokwari, Balipapan, dan Batusangkar. Data di video ini juga membuktikan bahwa dip subuh tidak pernah menyentuh bahkan -17 derajat. Ini semakin membuktikan bahwa dip -19.5 derajat klaim THR Kemenag sebetulnya adalah sebuah blunder. Silahkan ikuti videonya, atau klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=P2gLqemDMS0