Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Thursday, August 6, 2020

Pseudo Shariah Economy



Tiga isu besar pada pembangunan Ekonomi Syariah adalah: riba, gharar (ada tidaknya komoditas yang haram misal: khamr), dan maysir (unsur perjudian). Padahal ada isu yang lebih dahsyat yang telah menyebabkan hutang peradaban umat Islam, yaitu isu haul.

Karena umat Islam tidak pernah memiliki Kalender Islam yang kredibel, maka semua bisnis umat Islam menggunakan Kalender Masehi yang 365 hari sebagai basis haulnya. Padahal seharusnya menggunakan Kalender Islam yang hanya 354 hari.

Akibat kekeliruan penggunaan haul yang salah, maka setiap tahun, 11 hari selisih kedua kalender di atas tidak terzakati. Hutang zakat ini telah terakumulasi mungkin sekitar 1,200 tahun oleh semua bisnis umat Islam di dunia. Sehingga telah menumpuk menjadi hutang peradaban yang sangat besar. Video berikut menunjukkan berapa besar zakat yang tak terbayarkan akibat penggunaan Kalender Masehi sebagai basis haul umat Islam.

Silahkan ikuti video berikut:

Monday, August 3, 2020

Drone memantau hilangnya syafaq


Awal waktu isya tidak terlalu menjadi perhatian para peneliti. Sebetulnya untuk waktu isya-nya sendiri memang tidak terlalu bermasalah. Namun, statistik dengan menggunakan 171 hari data isya, ISRN memperoleh harga rerata dip isya yang -13 derajat. Bukan -18 derajat seperti ketetapan resmi pemerintah saat ini.

Jadi, potensi problemnya justru pada waktu maghribnya. Umat mungkin mengira masih waktu maghrib, padahal waktu maghrib telah habis.

Video ini menjelaskan penggunaan drone untuk pemantauan hilangnya sinar syafaq sebagai tanda masuknya waktu isya pada 22 dan 24 Juli 2020 lalu. Selain itu, dibahas juga statistik dari 171 hari data isya yang telah dikumpulkan di Indonesia.

Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:

Wednesday, July 15, 2020

Sekali lagi: polusi tidak dapat menahan kehadiran fajar


Ini mungkin video ke tiga untuk membuktikan bahwa polusi cahaya dan udara tidak mungkin dapat menahan kehadiran fajar. Menahan beberapa fraksi detik mungkin saja terjadi. Namun, kalau sampai menahan kehadiran fajar sampai puluhan menit, itu sangat tidak masuk akal.

Video ini mendemonstrasikan serangkain foto yang aslinya highly light polluted karena hadirnya sumber sinar yang sangat kuat menghadap ke kamera CANON yang digunakan. 

Kasus pertama ketika foto asli digunakan. Kasus kedua, ketika sumber polusi cahaya sebagian besar dihilangkan. Kemudian keduanya digunakan untuk menghitung kapan terjadinya fajar. Kedua kasus ini ternyata menghasilkan titik kehadiran fajar yang sama. Karena di rangkaian foto juga ada mendung yang cukup tebal, ini membuktikan bahwa bahkan kombinasi polusi udara dan cahaya tidak dapat menghambat kehadiran fajar. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:

Monday, July 13, 2020

Rekor terjadi di Medan: fajar saat Matahari -7.7 derajat


Rekor kehadiran fajar saat Matahari hanya pada kedalaman -7.7 derajat di bawah ufuk terjadi di Medan. Itu terjadi pada 30 Juni 2020 lalu, dan merupakan hasil kerjasama OIF-UMSU, Medan dan ISRN-UHAMKA, Jakarta.

Untuk mendeteksi kehadiran fajar, OIF-UMSU menggunakan dua alat: kamera DSLR CANON dan All-Sky. Hasil hitungan di atas, langsung diverifikasi dengan menggunakan teknik 3D surface modeling citra-citra yang dihasilkan.

Logika statistik sederhana menyimpulkan bahwa penggunaan sudut depresi Matahari -18 apalagi -20 derajat, memang harus dikoreksi. Silahkan ikuti video kami di: