Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Saturday, January 4, 2020

Jadwal sholat tahun 2020 dengan sun depression angle baru



Banyak sekali yang mengirim pesan melalui messenger maupun whatsapp, menanyakan tentang jadwal sholat tahun 2020 dengan sun depression angle (dip) baru. Ini menunjukkan semakin besarnya minat ummat Islam yang sadar bahwa jadwal sholat subuh dan isya selama ini memang bermasalah. Untuk memverifikasi kehadiran fajar sebetulnya sangat mudah karena Rasul dan para sahabat dengan teknologi yang paling sederhanapun dapat mudah melakukannya. Pergilah ke pinggir pantai yang mengarah ke timur, atau ke bukit yang dapat melihat jelas ke arah matahari terbit di timur. Dalam kasus yang kedua ini, tidak juga harus dapat melihat ufuk karena sinar fajar akan muncul di balik perbukitan. Persoalannya, sebagian besar ummat Islam memang memiliki etos keingintahuan yang sangat rendah. Sehingga ketimbang berupaya membuktikan apakah betul fajar telah muncul saat adzan subuh, misalnya, mereka berdalih pemerintah telah memiliki segala perangkat saat menentukan waktu subuh, sehingga lebih baik percayakan saja pada ulil amri. Ada lagi yang mengambil sikap ulama terdahulu tidak mungkin melakukan kesalahan (maksum), sehingga apa yang telah ditetapkan tidak mungkin salah. Ini agak aneh juga karena kalau demikian, apa bedanya ulama dengan Nabi?

Tiga mingu terakhir ini memang sangat padat untuk kami di ISRN. Tanggal 13-21 Desember lalu, saya bertugas ke Cairo, Mesir. Tanggal 21-26 Desember saya lanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Keduanya dalam rangka pengambilan data astronomi untuk memperkuat program kami menyusun twilight global. Selama di Cairo, saya banyak berdiskusi dengan National Research Institute of Astronomy and Geophysics (NRIAG-HELWAN) dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sekitar Cairo. 

Pada 17 Desember 2019, ISRN mempresentasikan hasil riset kami di depan NRIAG-HELWAN yang juga dihadiri oleh dua profesor astronomi dari Al-Azhar University dan Cairo University. Banyak kemiripan antara hasil penelitian waktu subuh NRIAG dengan ISRN. Setelah penelitian sekitar empat tahun, NRIAG memperoleh harga rerata dip subuh -14.7 derajat, sementara ISRN memperoleh -13.3 derajat. Perbedaan ini terus kami diskusikan dalam bentuk kerjasama riset di masa yang akan datang. Tapi yang jelas, angka-angka dip yang kami peroleh secara saintifik jauh dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah masing-masing. Pemerintah Indonesia menggunakan -20 derajat sementara Mesir menggunakan -19.5 derajat. In syaa Allah, ISRN akan diundang dalam sebuah seminar internasional di Cairo agar riset kami menuju konvergensi.

Pada 19 Desember 2019, NRIAG dan ISRN melakukan observasi fajar bersama ke padang pasir terbuka di Fayyoum (Faiyum) sekitar 100 km dari Cairo. Dalam tarikh, di Fayyoum inilah Nabi Yusuf membagi ummatnya menjadi 365 kelompok dalam rangka menghadapi tujuh tahun peceklik yang akan dihadapi oleh kerajaan. Setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk menanam bahan pangan yang dapat menghidupi seluruh negeri satu hari saja. Sehingga 365 kelompok itu tepat dapat menjamin pangan bagi seluruh negeri selama satu tahun. Di Fayyoum ini juga terdapat sebuah danau sebagai sumber air yang kemudian diangkat dengan teknologi tertentu untuk mengairi ladang kaum Nabi Yusuf ini. Dari sini, tampak pengetahuan musim dan teknologi yang sudah cukup canggih di masa itu. 

Pada 20 Desember 2019 petang, ISRN melakukan diskusi dengan mahasiswa/i Indonesia yang sedang kuliah di Cairo. Acara diskusi diselenggarakan di hall MD Inn, sebuah inn milik PCIM (Pengurus Cabang Istimewa Muhammdiyah) Mesir dimana saya tinggal selama seminggu di Cairo. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa Al-Azhar University sejak jenjang S1 sampai dengan S3. Alhamdulillah, diskusi yang sangat menarik telah terjadi, apalagi, ternyata cukup banyak mahasiswa/i yang tertarik mendalami Ilmu Falak. Semua kegiatan selama di Cairo juga selalu melibatkan pengurus PCIM Mesir di Cairo. Dengan ini ISRN mengucapkan terima kasih atas semua bantuan PCIM Mesir.

Pada 22 Desember 2019, ISRN melakukan diskusi yang serius dengan Prof. Adnan Okten, seorang profesor astronomi dari Istanbul University. Yang membuat surprise, Prof. Okten justru berpendapat bahwa dip -13.3 derajat yang kami perolehpun ternyata masih terlalu rendah. Karena setelah 100 kali lebih pengamatan dengan mata telanjang, beliau berpendapat bahwa fajar itu baru muncul pada dip -10 bahkan -9 derajat. Setelah diskusi panjang di cafe City Burger milik putera kedua beliau di distrik kuliner yang sangat ramai di Kabatas, akhirnya kami dapat menyimpulkan dimana letak perbedaannya. ISRN mendefinisikan fajar sebagai sinar twilight pertama yang terdeteksi oleh sensor (referensi: Al-Baqarah: 187), sedangkan beliau mendefinisakn fajar saat sinar kemerahaan (reddish light) telah menyebar (referensi: beberapa hadis). Diskusi ini kami lanjutkan lagi di ruang kerja beliau di Istanbul University pada keesokan harinya. Beliau mendemonstrasikan beberapa software astronomi mutakhir yang digunakan untuk penelitian beliau.

Ada perkembangan hasil riset yang juga tidak kalah menarik. Seperti telah kami laporkan, ISRN telah menyelesaikan perhitungan dip subuh untuk sekitar 226 hari data fajar di Indonesia. Namun, ISRN juga telah menyelesaikan sekitar 420 hari data fajar Birmingham, Inggris. Untuk Birmingham, kami memperoleh dip rerata -12.8 derajat (baca: dip rerata Indonesia -13.3 derajat). Namun, test statistik yang kami lakukan beberapa hari lalu membuktikan bahwa populasi statistik Indonesia dan Birmingham tersebut ternyata equal (sama). Ini adalah fenomena yang sangat menarik dari kacamata statistik karena konsekuensinya, kedua populasi ini sebetulnya dapat digabung dan dicari harga common average (harga rerata gabungan). Fakta ini semakin menumbuhkan keyakinan kami bahwa di seluruh dunia, kehadiran fajar itu sebetulnya sama yaitu saat matahari berada pada depression angle sekitar 13 derajat. Artinya, tidak ada perbedaan bahwa Amerika Utara harus menggunakan -17.5 derajat, Mesir -19.5, Malaysia -18, Indonesia -20 derajat dan sebagainya. Tentu saja kami masih memerlukan pengumpulan data astronomi yang lebih banyak lagi untuk membuktikan hipotesis kami ini.

Laporan detil hasil perjalanan dan observasi kami di Cairo dan Istanbul, perhitungan dip untuk Birmingham (UK), Seattle (USA), berikut analisis statistik lengkapnya, in syaa Allah, akan saya laporkan setelah ISRN memberikan laporan resmi pada Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah dalam waktu dekat. Menurut informasi sementara, MTT PPM akan mengundang ISRN untuk ini, sebelum berlangsungnya MUNAS TARJIH yang rencananya akan diselenggarakan pada sekitar April 2020 di Universitas Muhammadiyah Gresik, Jawa Timur. Semoga kajian awal waktu subuh tetap menjadi agenda penting yang akan dibahas pada Munas Tarjih yang akan datang. Selain itu, ISRN juga sedang menyiapkan laporan lengkap hasil penelitian twilight global ini dalam bentuk buku. Karena ISRN pernah menerbitkan buku laporan pertama dalam bahasa Indonesia, laporan kami yang kedua ini, in syaa Allah, akan dalam bahasa Inggris.

Akibat kesibukan-kesibukan di ataslah, jadwal sholat tahun 2020 belum dapat saya siapkan. Saya mohon maaf. In syaa Allah, jadwal sholat beberapa kota akan saya cicil mulai tulisan ini untuk beberapa kota berikut sesuai dengan permintaan pembaca:



Thursday, December 12, 2019

Belum ada fajar saat astronomical dawn di Bitung 12 Sep 2018


Masih banyak yang bertanya, mengapa kita harus menggunakan harga dip rerata hasil hitungan dip? Mengapa tidak cukup diukur sekali dan langsung diambil kesimpulan seperti yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat (TRH) Kemenag? Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan segamblang mungkin.

Kalau kita menabung uang Rp. 1 juta saja ke bank, bank teller pasti akan menceknya minimal dua kali meskipun kita yakinkan bahwa kita sudah menghitungnya berkali-kali. Bank teller ini sebetulnya sedang mencari redundancy (sering dinamakan degrees of freedom - DF). Semakin besar DF, maka semakin reliable hasilnya. 

Alam semesta bersifat stokastik (stochastic). Katakanlah, kita menimbang beras dan diperoleh 2.15 kg. Kalau kita ulangi lagi, mungkin akan diperoleh 2.18 kg. Kalau kita timbang 10 kali, maka mungkin akan diperoleh 10 nilai berat yang masing-masing berbeda. Berapakah berat beras yang sebenarnya. Jawaban singkatnya adalah: hanya Allah-lah yang tahu. Kalau ditimbang 100 atau 1000 kali, angka berat itupun terus berubah. Tugas statistik bukan mencari harga yang benar, tapi mencari the most plausible value (nilai yang paling masuk akal), itulah harga rerata (mean).

Demikian pula harga perhitungan dip subuh yang melibatkan kondisi alam yang sangat kompleks. Bagaimana mungkin untuk hal sepenting ini hanya diukur sekali padahal untuk transaksi Rp 1 juta rupiah saja orang harus menghitungnya berkali-kali?

Jadi, yang telah ISRN lakukan dengan memiliki 226 hari data subuh adalah sebetulnya dalam rangka memperbesar degrees of freedom agar hasil keputusannya reliable. Dua parameter statistik yang penting dan harus diumumkan pada ummat adalah harga mean (rerata) dan standard deviation. Dengan dua unbiased estimators statistik ini, kiat dapat melakukan kajian bagaimana sifat populasi statistiknya. 


Di Bitung pada 12 September 2018 lalu, harga dip subuh yang diperoleh adalah -16.78 derajat. Jauh lebih besar dari harga rerata nasional yang -13.27 derajat. Bagaimanakah menganalisis kehadiran fajar saat astronomical dawn -18 derajat, dan berapa probabilitas kemunculannya? Silahkan ikuti videonya.

Video menarik yang lain:
1) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
2) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
3) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
5) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.


Sunday, December 8, 2019

Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan


Pada 14 & 15 Desember 2018, ISRN mengoperasikan tiga buah sensor untuk mendeteksi kehadiran fajar di Balikpapan, Kaltim. Kami menggunakan dua buah SQM (lama dan baru), dan sebuah DSLR camera NIKON.

Dalam studi di Balikpapan ini (sebetulnya kami juga memperoleh temuan yang sama di Manokwari, dan Bitung), kami dapat buktikan bahwa untuk mendeteksi kehadiran fajar, alat SQM tidak perlu dikalibrasi. Kehadiran fajar dapat ditentukan dengan melihat perubahan intensitas cahaya (magnitudo) relatif. Tidak diperlukan magnitudo absolut. Baru jika kita akan meneliti perilaku satwa liar (misal: burung), kita akan memerlukan SQM yang harus dikalibrasi karena kita harus melakukan benchmark pada kondisi kegelapan langit asli di hutan.


Kasus fajar di Balikpapan ini juga menunjukkan bahwa fajar belum muncul saat astronomical dawn, apalagi pada -20 derajat seperti subuh resmi kita saat ini. Silahkan ikuti video di atas.

Video menarik lain:
1) Fajar belum muncul saat astronomical dawn;
2) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440H;
3) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;

Thursday, December 5, 2019

Fajar belum muncul saat Astronomical Dawn


Banyak umat Islam yang sukar menerima kenyataan bahwa subuh kita selama ini ternyata jauh terlalu awal dari seharusnya. Ada sebagian yang percaya, namun, masih terpaku pada astronomical dawn (fajar astronomi) yaitu saat kedudukan Matahari berada pada posisi -18 derajat di bawah ufuk. Sikap seperti ini bias. Padahal sama sekali tidak didukung oleh fakta dan data. 

ISRN sampai saat ini telah memiliki data subuh sebanyak 228 hari, sehingga telah menjadi sebuah populasi sendiri. Dip rerata yang kami peroleh dari 228 data tersebut adalah -13.27 derajat dengan standard deviation -1.85 derajat. Dalam 99.9% confidence interval, maka dip subuh di Indonesia berada pada rentang antara -12.87 derajat dan -13.67 derajat. 


Video berikut ini menjelaskan juga probabilitas kemunculan fajar pada berbagai dip (dari 15 sampai dengan 20 derajat). Yang tertarik, silahkan ikuti video di atas.