Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Monday, February 17, 2020

Fajar Madinah yang tertangkap kamera gadget


Pada 3 Februari 2020 lalu, Bapak Ahmad Rizal mengirim pesan WA melalui WAG Jakarta Islamic Center. Intinya, beliau ingin merekam kenampakan fajar di Madinah selama beliau melaksanakan ibadah umrah.

Saya kemudian sarankan beliau mengunduh aplikasi Lapse-It. Ada dua pilihan, yang berbayar dengan harga sekitar Rp 60 ribu mampu menghasilkan resolusi sekitar 1000 x 800 pixel. Opsi kedua yang tidak berbayar, tapi maksimum resolusi geometrisnya hanya 640 x 480 pixel. Beliau memilih opsi yang kedua ini.

Ternyata jepretan Bapak Ahmad Rizal adalah contoh yang nyaris sempurna untuk mendemonstrasikan fajar. Dari sekitar hampir 700 hari data yang ISRN miliki, hasil Pak Ahmad Rizal ini merupakan salah satu yang terbaik.

Kenyataan penting lain membuktikan bahwa membuat selang antara adzan dan iqomah sekitar 30-35 menit, tampaknya betul-betul telah dipikirkan oleh ulama-ulama Saudi Arabia. Kenampakan fajar shodiq dapat disaksikan bertepatan dengan waktu sholat subuh didirikan. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:




Semoga amal Bapak Ahmad Rizal memperoleh pahala yang berlimpah dari Allah swt. Selama beliau beribadah, beliau juga ikut berkontribusi membangun peradaban ummat Islam.

Video menarik lainnya:



Friday, February 14, 2020

Polusi cahaya tidak menghambat kehadiran fajar


Video berikut juga merupakan jawaban atas salah satu isu yang dilontarkan pada Halaqah Pra-Munas Tarjih PP. Muhammadiyah pada 1 Februari 2020 lalu. Halaqah ini bertempat di Hotel @HOM Yogyakarta dengan tema: Kriteria waktu subuh dan model Kalender Islam Global. Isu yang dilontarkan oleh peserta halaqah adalah bahwa polusi cahaya akan menghambat kehadiran fajar. Namun sekali lagi, isu seperti ini selalu saja terlalu normatif. Tidak ada yang dapat memberikan fakta dan data. Misalnya, polusi cahaya tingkat satu akan menghambat kehadiran fajar sekian detik. Polusi cahaya tingkat dua akan menghambat fajar sekian menit . . . dsb.

Sementara itu, saya berpendapat berdasarkan fakta dan kenyataan lapangan. Gelombang energi Matahari itu bergelombang semakin besar setiap saat. Begitu fajar dapat terdeteksi, maka gelombang energi Matahari akan meningkat mengikuti fungsi eksponensial. Jadi, mungkin saja polusi menghambat kehadiran fajar satu detik; namun, pada detik berikutnya energinya akan jauh lebih dahsyat untuk dapat dihambat oleh polusi cahaya. Persoalannya, terhambat satu detik itu, untuk perhitungan waktu solat adalah sangat trivial karena waktu sholat itu disusun paling dalam akurasi menit saja.

Silahkan ikuti video berikut ini:



Video menarik lainnya:




Monday, February 10, 2020

Analisis statistik waktu subuh Indonesia dan Birmingham


Sejak Maret 2017 sampai akhir 2018, ISRN melakukan penelitian awal waktu subuh di Indonesia. Secara geografis, wilayah cakupan telah meliputi belasan kota yang tersebar di seluruh Indonesia dan sedikit Malaysia. Total jumlah data yang kami miliki adalah 226 hari untuk subuh. Alat utama yang kami gunakan adalah sky quality meter (SQM) yang merekam nilai kecerlangan langit. Resolusi temporal yang kami gunakan adalah 3 detik. Hasilnya telah konvergen sejak kami hanya menggunakan data sekitar 30 hari pada nilai dip -13.3 derajat, dengan standard deviasi 1.85 derajat. Karena hasilnya telah stabil (konvergen), kami memutuskan untuk menghentikan pengambilan data di Indonesia, dan mulai melakukan pengambilan data global. Untuk itu, kami telah berhasil juga mengkoleksi data astronomis di Tacoma (Washington), Kairo, dan Istanbul.

Pada pertengahan 2019, tiba-tiba kami menerima permintaan tolong untuk memproses data astronomis sekepompok Muslim di Birmingham. Datanya diambil menggunakan alat all-sky camera (ASC). Total ada 554 hari data astronomis. Meskipun pertolongan ini bersifat sukarela, tentu saja kami sangat senang sekali karena tiba-tiba kami punya sekitar 554 hari data astronomis. Padahal untuk mengkoleksi data sekitar satu bulan di Tacoma, Kairo, dan Istanbul saja, UHAMKA telah mengeluarkan dana riset ratusan juta rupiah. Akhirnya, dari 554 hari, data yang reliable hanya 423 hari. Hasil rerata kehadiran fajar di Birmingham ini ternyata sedikit berbeda. Harga rerata yang diperoleh adalah -12.98 derajat dengan standard deviasi 0.99 derajat.

Menariknya, setelah kami lakukan tes statistik, populasi dip Indonesia dan Birmingham itu ternyata sama. Kami memilih 256 sampel masing-masing berisi 40 pengamatan yang dipilih secara random. Hasilnya meyakinkan, populasi dip Indonesia dan Birmingham ini ternyata equal (sama). Temuan penting ini menumbuhkan keyakinan bahwa kehadiran fajar di seluruh dunia itu sebetulnya sama yaitu saat Matahari berada pada sudut kedalaman -13 derajat. Hasil perhitungan dip subuh di Tacoma, Kairo, dan Istanbul juga mendukung hipotesis kami ini. Kami sedang mencari dana riset melalui lembaga-lembaga internasional untuk membuktikan Null Hypothesis kami ini. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:  


Semoga Allah memberikan pertolongan pada upaya penting yang sedang kami lakukan.

Video lain yang menarik:
1) Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar;
2) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
3) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
4) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
5) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
6) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.

Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar


Alhamdulillah, Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, tampaknya berketetapan hati untuk membawa isu awal waktu subuh dan Kalender Islam Global (KIG) ke Munas Tarjih yang akan diselenggarakan pada 14-17 April 2020 mendatang.

Untuk menyiapkan itu, pada 1-Februari-2020 lalu, diadakan Halaqah Pra-Munas bertema: Kriteria Waktu Subuh dan Model Kalender Islam Global. Dalam diskusi tersebut, masih saja muncul pendapat bahwa polusi (udara maupun cahaya) memang menghambat kehadiran fajar. Hanya saja, yang berpendapat seperti ini juga tampaknya hanya berdasarkan dugaan, tanpa data. Buktinya, tidak ada yang dapat menunjukkan, misalnya: 
1) Jika polusi tingkat 1, maka akan menimbulkan fajar terhambat sekian sekian detik;
2) Jika polusi tingkat 2, maka akan menimbulkan fajar terhambat sekian menit  . . . dsb.

Sudah ada beberapa viseo yang kami terbitkan bahwa polusi cahaya tidak menghambat kehadiran fajar. Dalam video kali ini, kami memberikan kasus mendung tebal pada 5 Novemver 2018, ternyata tidak menghambat kehadiran fajar. Contoh kasusnya terjadi di Birmingham, Inggris. Silahkan ikuti video berikut


Video menarik lainnya:
1) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
2) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
3) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
5) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.