Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Saturday, March 28, 2020

Crowdsourcing: strategi baru arah riset ISRN-UHAMKA dalam penelitian fajar global

Coronavirus tampaknya akan melumpuhkan hampir semua sendi kehidupan manusia di Bumi. IMF sudah menyatakan pandemi ini telah mengarah pada krisis ekonomi dan keuangan global. Konon, mungkin akan lebih parah dari krisis ekonomi 1998. Pengangguran di Amerika diprediksi akan menyentuh 3 juta orang . . . astagrifullah. Kongres Amerika telah menyetujui stimulus ekonomi sebesar US$ 2 triliun sebagai langkah mitigasi. Mungkin, angka itu setara dengan sekitar dua kali jumlah total hutang seluruh dunia Muslim pada badan keuangan dunia (WB, IMF, dll) pada tahun 2012. Belum ada prediksi yang mendekati akurat untuk Indonesia memang, namun, diperkirakan juga akan devastating. Coronavirus juga jelas akan menyebabkan perubahan strategi penelitian ISRN-UHAMKA tentang waktu subuh. 

Alhamdulillah, tahun lalu, UHAMKA telah begitu generous memberikan dana riset pada ISRN-UHAMKA. Dengan dana itulah ISRN-UHAMKA telah mampu mengumpulkan data astronomi di Tacoma (Washington State), Cairo (Mesir), dan Istanbul (Turki). Beberapa kolega sampai sering bercanda kalau kami ketemu dalam rapat: “loh lagi kebetulan ada di Indonesia ya?” Candaan ini, betul-betul menyentuh karena saya merasa bahwa UHAMKA telah terlalu memanjakan ISRN-UHAMKA dalam hal ini. Dalam kesempatan ini, atas nama ISRN-UHAMKA, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Artikel selengkapnya dapat diperoleh di sini.

Friday, March 27, 2020

Undangan diskusi virtual tentang Fajar Global




Ini adalah video pertama hasil kerjasama Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA dengan OpenFajr Project, Inggris Raya. Meskipun sebetulnya, kami telah bekerjasama sejak Juni 2019 lalu. Video yang sama versi bahasa Inggris telah kami publikasikan pada 21 Maret 2020 lalu (lihat di sini).

Saat ini, ISRN memiliki 245 hari data astronomi yang dikumpulkan dari 2015 hingga 2020 untuk menentukan kehadiran fajar. Dari data ini, kami memperoleh harga rerata kemunculan fajar adalah pada dip -13,24 derajat dengan deviasi standar 1.81 derajat. Sementara itu, Proyek OpenFajr, Inggris memiliki 422 hari data astronomi dan memberikan harga rerata -12.98 derajat dengan standar deviasi 0.99 derajat.

Video ini menjelaskan bahwa secara statistik, kedua populasi ini sebenarnya sama. Dengan demikian, kita dapat menggabungkan mereka menjadi satu populasi yang memberikan rerata populasi akhir -13.05 derajat dan deviasi standar 1.32 derajat. Fakta ilmiah di atas mengarah pada Null Hypothesis baru yang menyatakan bahwa kehadiran subuh sebenarnya sama di seluruh dunia, yaitu saat Matahari berada pada sudut depresi sekitar -13 derajat. Data astronomi terbatas yang dikumpulkan di Tacoma (Washington State), Kairo, Istanbul, dan Madinah (Arab Saudi) untuk sementara mendukung Null Hipotesis baru ini.

Karena itu, kami mengundang kolaborasi internasional untuk mengembangkan skema pengumpulan data crowdsourcing. Kami akan dengan senang hati membantu jika Anda membutuhkan bantuan teknis tentang cara mengumpulkan dan memproses data. Jika Anda tertarik, silakan ikuti tautan ini:



Video lain yang menarik:


Saturday, March 21, 2020

Call for a virtual discussion about the global fajr


Global Fajr: It occurs when the sun is at its depression angle of -13 degrees.


It is the first official video published as a collaboration between the Islamic Science Research Network (HAMKA Muhammadiyah University, Indonesia), and OpenFajr Project Team, United Kingdom. Although, we have been collaborating since June 2019.

Currently, ISRN has 245 days of astronomical data collected from 2015 to 2020 for the estimation of the occurrence of the Fajr. It gives the population-mean of -13.24 degrees with a standard deviation of 1.81 degrees. Meanwhile, the OpenFajr Project, UK has 422 days of astronomical data to give the population-mean of -12.98 degrees with a standard deviation of 0.99 degrees.

This video explains that statistically, these two populations are actually equal. As such, we can combine them into a single population which gives the final population-mean of -13.05 degrees and the standard deviation of 1.32 degrees. The above scientific fact leads to further research inquiries to state that the presence of the Fajr is actually the same in the world; that is when the sun is at its depression angle of about -13 degrees. Limited astronomical data collected in Tacoma (Washington State), Cairo, Istanbul, and Medina (Saudi Arabia) temporarily support this Null Hypothesis.

We, therefore, call for international collaboration to develop a crowdsourcing data collection scheme. We will be more than happy to help if you need technical assistance as to how to collect and process the data. If you are interested, please follow this link:


Other videos:



Thursday, February 27, 2020

A gadget camera recorded the real fajr in Medina



On February 5, 2020, Mr. Ahmad Rizal took a series of photos of the fajr in Medina while he was performing umrah. He used Lapse-It application running on his Realme C2, an Android-based gadget camera.

Despite the use of a free version of the Lapse-It with only gives a maximum geometric resolution of 480 pixels, his recording is one of the best of the approximately 700 data that ISRN has.

The following video demonstrates the occurrence of the real fajr when the sun was at its depression angle of -10.24 degrees below the horizon. The ulemas of Saudi Arabia seem to have carefully considered the delay between athan and iqama about thirty minutes to allow the real fajr to occur. The fajr was already present when the muezzin recited iqama, and worshipers began to pray.

Should you be interested, please click the YouTube link, or copy-paste the following link to your browser:



https://screencast-o-matic.com/watch/cYnthEw8Zl




Other videos: