Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Sun depression angle -20 derajat terlalu awal untuk subuh di Indonesia. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Sun depression angle -20 derajat terbukti terlalu awal untuk subuh di Indonesia

  • Twilight di wilayah Equator seharusnya lebih pendek daripada di intang tinggi seperti Timur Tengah, Eropa, dan Amerika

  • Penentuan rentang twilight di dunia cenderung acak, bukan hasil penelitian astronomis. Ini terbukti dari penentuan twilight di Indonesia justru lebih panjang daripada wilayah dengan lintang lebih tinggi seperti di Timur Tengah, Eropa, bahkan Amerika

  • Diperlukan penelitian penentuan awal waktu subuh yang akurat di dunia karena ini menyangkut syah tidaknya ibadah umat Islam dunia

  • Penelitian selama dua tahun menggunakan lima jenis sensor pendeteksi fajar membuktikan itu

Our Latest Blog

Wednesday, July 1, 2020

Mengkaji ulang munculnya fajar di dunia


Untuk penelitian waktu subuh, sampai dengan 19 Juni 2020 lalu, ISRN-UHAMKA telah memiliki sekitar 730 hari data subuh dunia. Data tersebut tersebar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Inggris. 

Memang, yang telah membentuk populasi baru Indonesia dan Yorkshire (Inggris) yang masing-masing memiliki 277 dan 422 hari data fajar.

Sementara itu, ISRN-UHAMKA telah menggunakan belasan sensor yang meliputi non-imaging dan imaging sensors, termasuk drone. 

Video ini menganalisis semua hasil perhitungan kemunculan fajar berdasarkan data fajar dunia tersebut. Dalam grup penelitian internasional kami the Global Twilight Project, kami semakin yakin bahwa penetapan awal waktu subuh oleh organisasi-organisasi besar dunia tampaknya harus dikaji ulang.

Silahkan ikuti video berikut ini:


Jika tertarik dengan hasil penelitian kami yang lain, silahkan ikuti video-video berikut juga. Semoga bermanfaat. 

 

Friday, June 26, 2020

Potensi penggunaan drone untuk penelitian fajar


Lockdown selama pandemik Covid-19 telah memberikan kesempatan pada ISRN untuk melakukan inovasi penggunaan drone untuk penelitian fajar. Mungkin, ini adalah drone pertama di dunia yang digunakan untuk penelitian fajar. Sebagai percobaan pertama, kami menggunakan drone terkecil dengan bobot 249 gram (termasuk batere). FAA memberikan batas berat minimum adalah 250 gram. Dengan demikian, in syaa Allah, jika ISRN akan melakukan pengambilan data subuh di luar negeri, kami akan terbebas dari persyaratan minimum harus memiliki lisensi menerbangkan drone.

Data pertama yang kami sampaikan dalam video ini diambil pada subuh 24 Juni 2020 lalu, di daerah Kali Angke, Jakarta Barat. Hasilnya cukup bagus. Karenanya, penggunaan drone untuk penelitian fajar tampaknya memiliki potensi yang cukup cerah. Kami juga sudah mengkomunikasikan hasil ini dengan teman-teman peneliti yang tergabung dalam the Global Twilight Project. Mereka menyambut inovasi ISRN ini dengan sangat antusias.

Yang tertarik melihat hasil penggunaan drone dalam penelitian fajar, silahkan ikuti video berikut:

Wednesday, May 13, 2020

Fajar belum muncul saat nautical dawn di Labuanbajo


Video ini sekali lagi membuktikan bahwa fajar belum muncul saat nautical dawn (-18 derajat) di Labuanbajo pada 24 April 2018 lalu. Dengan demikian, video ini membantah Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag yang mengklaim bahwa fajar hari itu muncul pada -19.5 derajat.

Data yang digunakan untuk membantah klain Tim BHR adalah foto-foto digital yang dikoleksi oleh Tim BHR sendiri. Ada 52 foto digital yang diambil pada resolusi temporal 31 detik. Dalam satu foto, ada sekitar 2.4 juta pixel, Berarti, resolusi geometrisnya juga cukup baik. Dari pemodelan matematik, diperoleh hasil fajar ternyata baru muncul saat matahari berada pada sun depression angle -17.4 derajat. Bukan pada -19.5 derajat. 

Hasil hitungan ISRN diperkuat dengan hasil analisis 3D surface modeling foto-foto digital tersebut. Silahkan ikuti melalui video berikut: 



Video lain yang terkait:





Saturday, May 2, 2020

Jadwal sholat kota-kota dunia dan konvergensi sun depression angle subuh


Meskipun ISRN telah menyatakan menghentikan pengambilan data fajar di Indonesia, beberapa keadaan telah memaksa pengambilan data subuh tetap dilakukan secara terbatas. Tanpa disadari, data kami telah 698 hari data. Itu hanya meliputi data subuh Indonesia dan Yorkshire (koreksi dari OpenFajr: bukan Birmingham) yang telah kami buktikan sebetulnya berasal dari populasi statistik yang sama. Data di atas belum termasuk 21 data subuh yang kami koleksi di Tacoma (USA), Cairo, Istanbul, dan sumbangan data Bapak Ahmad Rizal dari Madinah. Hasil hitungan sun depression angle dari 698 hari data di atas terus konvergen ke angka -13 derajat. Silahkan ikuti laporan videonya di:





Sementara itu, permintaan jadwal sholat kota-kota besar dunia berdatangan. Misalnya untuk kota Brussels, Berlin, Moscow, dll. Artikel dan video kami ini menjelaskan status data dan statistik 698 hari data di atas. Sedangkan kota-kota dunia (termasuk kota di Indonesia) yang telah kami hitung jadwal sholatnya menggunakan harga sun depression angle baru tersebut adalah:


Washington DC, USA