Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Read More
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Read More
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Read More
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Read More

Let's Share Our Knowledge for Prosperity of Ummah

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

Our Latest Blog

Monday, October 1, 2018

Masih perlukah perselisihan arah Kiblat?


Arah kiblat selalu menjadi diskusi yang enggak pernah berhenti. Sebetulnya, sudah banyak software dan aplikasi yang dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat. Tapi, masih banyak juga ulama dan sarjana Muslim yang selalu mempersoalkan akurasinya. Apalagi dengan banyaknya gempa bumi yang terjadi, banyak ulama dan sarjana Muslim yang berspekulasi bahwa arah kiblat telah berubah. Pada tahun 2010-an, banyak masjid/musholla, dan kuburan yang dibongkar karena spekulasi ini. Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya?

Arah kiblat saat sholat ummat islam adalah ke arah Ka'bah di Mekah. Jarak Jakarta ke Ka'bah adalah sekitar 7,922 km sedangkan ukuran Ka'bah hanya sekitar 12 m x 13 m. Inilah problem besarnya. Menghitung arah kiblat (azimuth Jakarta-Ka'bah) bukanlah hal yang sulit. Hitungan geodetis dengan pemodelan Bumi yang paling akurat dapat menghitung arah kiblat sampai dengan 0.1" (sepersepuluh detik sudut). 

Persoalan besar yang terjadi adalah dalam proses reverse engineeringnya. Setelah kita dapat menghitung arah kiblat sampai akurasi 01", kita perlu menetapkannya di lapangan. Dalam Teknik Sipil ini dinamakan, staking out yang tidak mungkin seakurat hitungan teoretis. Secara empiris, proses staking out ini bisa menyebabkan kesalahan sebesar 10 derajat dengan sangat mudah. Secara matematik, kalau kita salah melakukan staking out sebesar 1" (satu detik sudut) saja dari Jakarta, maka arah kiblat di ujung Mekah sana akan menyimpang sebesar 38.4 meter. Jadi, kalau kesalahannya 10 derajat maka kesalahan arah di ujung Mekah sana adalah sebesar 10x3600x38.4 meter = 1,382 kilometer! Jadi secara teoretis, tidak mungkin ada orang Islam di Jakarta ini yang dapat menghadap Ka'bah saat sholat. Bahkan dari Madinah pun, insya Allah tidak mungkin. Jadi, saran saya, lebih baik energi umat Islam lebih fokus digunakan untuk mendiskusikan saat awal waktu subuh dan isya. Dengan menggunakan empat jenis sensor dan ratusan data yang kami miliki, ISRN telah dapat membuktikan bahwa awal subuh di Indonesia jauh  terlalu awal, sedangkan awal isya kita jauh terlalu lambat.

Penjelasan grafis yang sederhana dapat dilihat pada file berikut: Analisis atas perselisihan arah Kiblat

Bagi yang tertarik dengan hitungan yang lebih teliti dan sangat teknis, dapat baca artikel saya berikut: Geodetic analysis of disputed accurate qibla direction

Allahu a'lam, semoga bermanfaat.

Artikel menarik lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)

10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru



Tuesday, September 4, 2018

Analisis Ekonometrika: Korelasi Personal Income dengan Health Expenditure (komparasi untuk analisis korelasi polusi dengan kehadiran fajar)

Artikel saya berjudul Korelasi antara tingkat polusi dengan kemunculan fajar (http://cis-saksono.blogspot.com/2018/08/korelasi-antara-polusi-dengan-kehadiran.html) menimbulkan tanggapan pembaca yang cenderung ngeyel. Menurutnya, tetap saja kehadiran polusi telah menyebabkan terlambatnya kehadiran fajar. Padahal, dalam artikel tersbut, saya sudah menjelaskan empat kali bahwa memang terdapat korelasi, namun korelasi itu sangat tidak signifikan. Dengan demikian, mendiskusikannya hanya akan membuang waktu tanpa manfaat.

Yang tertarik melihat analisis komparasinya dengan kasus dalam Ekonometrika, silahkan ikuti Analisis Korelasi Personal Income dan Health Expenditure berikut ini.

Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru
12) Evaluasi awal subuh dan isya: perspektif sains, teknologi dan syariah

Tuesday, August 28, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (3)

Sebagai rangkaian Analisis Iedul Adha 1439-H (3), tulisan ini sekali lagi menjelaskan bahwa sains dan teknologi dapat digunakan untuk memverifikasi bahwa ritual Iedul Adha 1439-H lalu seharusnya dapat dilakukan pada satu hari yang sama di seluruh dunia, yaitu pada 21 Agustus 2018.

Penggunaan dua software Accurate Times dan Stellarium dapat membuktikan bahwa meskipun hilal di Indonesia tidak kelihatan pada maghrib 11 Agustus 2018 lalu, namun sejatinya hilal di Indonesia itu selalu lebih besar daripada wilayah di sebelah timurnya (termasuk Mekah). Artikel selengkapnya berupa file PDF dan dapat diunduh melalui: Analisis Iedul Adha 1439-H (3).

Ada beberapa gambar yang mungkin terlalu kecil pada artikel tersebut. Bila diperlukan gambar dalam skala aslinya, silahkan unduh melalui ling berikut:

Hilal pada 11/08/18 pukul 20:06:48 di Mexico City
Hilal pada 12/08/18 pukul 09:06:48 di Jakarta
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 12:06:50
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 17:55:02


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar



Thursday, August 23, 2018

Korelasi antara polusi dengan kehadiran fajar


Sejak ISRN menerbitkan buku hasil penelitian berjudul Evaluasi Awal Waktu Subuh dan Isya: Perspektif Sains, Teknologi dan Syariah, muncullah opini dan isu untuk mengecilkan hasil penelitian ini. Kelihatannya, tujuannya sama yaitu untuk membuktikan bahwa hasil penelitian ISRN itu salah, dan penetapan dip subuh sebesar -20 derajat (sekitar 80 menit sebelum syuruq) dan dip isya sebesar -18 derajat (72 menit setelah maghrib) yang selama ini dianut oleh Kemenag telah benar adanya. Maka muncullah sebuah diagram teoritis hasil rekaan untuk menggambarkan terbiasnya sinar fajar dan menyebabkan terlambatnya kemunculan fajar.

Anehnya, seharusnya grafik seperti ini adalah hasil sebuah pemodelan ribuan data fisik hasil pengamatan yang cukup kompleks yang dikoleksi dan diteliti di berbagai lokasi dengan tingkat polusi cahaya dan udara yang berbeda. Tapi nyatanya, grafik di atas malah hanya dibuat sebagai hasil hayalan tanpa menggunakan satupun data. Jelas ini merupakan diagram hasil rekaan yang penuh bias. 

Tulisan ini membuktikan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara polusi dengan kemunculan fajar. Silahkan ikuti melalui Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar.


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha 1439-H (1)
2) Analisis Iedul Adha 1439-H (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Hijriah Global: imkan-rukyat global vs imkan-rukyat lokal
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)